Oleh: Ahmad Arif Hidayat, Lc., M.Si.
الحمد لله الذي أحلّ البيع وحرّم الربا، وأمرنا بطاعته وطاعة رسوله وأولى النهى، وجعل السعادة في الآخرة والفوز في الأولى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، شهادة تأمرنا بالمعروف والنهي عن المنكر إجبارا منه لنا. وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده، شهادة تشهد بها قائلها أن يكون من أحبابه ذوي الهدى والتقى.
اللهم صل وسلم على سيدنا ومولانا محمد خير من أسري به في الدجى، وعلى آله وصحبه أهل الخير والنجى. أما بعد.
فيا عباد الله، أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فيما أمر وفيما نهى، إلى أن قضى لنا الموت وكفى، فقد قال الله تعالى: ياَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ (سورة آل عمران: 102 )
Hadirin jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Manusia pada umumnya sangat menyukai adanya jaminan; jaminan kesehatan, keselamatan, pekerjaan, hingga jaminan hari tua bagi dirinya maupun keluarganya. Namun ketahuilah, bagi seorang muslim tidak ada jaminan yang lebih agung dan lebih pasti daripada jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam surat ath-Thalaq ayat 2 dan 3, Allah menjanjikan dua hal: jalan keluar dari setiap persoalan yang rumit, dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Jaminan mulia ini Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Allah swt berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ (سورة الطلاق: 2-3)
Artinya: Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. (QS. Al-Thalaq: 2-3)
Oleh sebab itu, marilah kita tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan ketakwaan itulah, insyaAllah pertolongan-Nya akan turun kepada kita semua, baik dalam menghadapi kesulitan mencari pekerjaan, kesulitan mencari kebutuhan hidup, kesulitan mendapatkan jodoh, menyelesaikan berbagai urusan, maupun kesulitan lainnya. Semoga Allah memudahkan setiap langkah kita. Aamiin.
Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah swt
Rasa gembira seseorang ketika mendapatkan jaminan sesungguhnya menunjukkan adanya kegelisahan dalam hatinya; kegelisahan akan hidup yang penuh kesusahan di masa depan. Karena itu, yang paling ia butuhkan adalah kesalehan diri. Hendaknya ia bercermin dan bertanya kepada dirinya: sudahkah ia menjadi pribadi yang saleh? Sejauh mana kesalehannya? Kesalehan itu berarti kebaikan; kebaikan untuk dirinya, keluarganya, dan juga untuk sesama. Hal ini pernah digambarkan dalam sebuah kisah:
Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ menceritakan tentang tiga orang yang sedang bepergian lalu berteduh di sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu besar menutup pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar. Maka masing-masing dari mereka berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh yang pernah mereka lakukan. Seorang di antaranya berbakti kepada orang tuanya, yang lain menjaga diri dari perbuatan zina meski ia mampu melakukannya, dan yang ketiga melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Lalu, dengan izin Allah, batu itu bergeser hingga mereka bisa keluar dengan selamat.
Salah satu doa terbaik bagi keluarga adalah menjaga mereka dengan kestabilan ekonomi. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang baik akan menopang kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga keluarga kita terhindar dari keburukan kelaparan dan kesusahan. Maka demi menjaga keutuhan keluarga, jangan sekali-kali kita hancurkan dengan perbuatan yang merugikan, seperti hidup boros dan menghamburkan harta pada hal-hal yang tidak bermanfaat, apalagi melalui praktik perjudian.
Perjudian disebut sebagai perbuatan setan yang terlaknat. Sebab, setan menjerumuskan manusia untuk mencari harta dengan cara mengadu nasib secara instan tanpa kerja keras. Cara seperti ini jelas dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an:
رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ
Artinya: “adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan)” QS. Al-Maidah: 90
Larangan Allah terhadap praktik perjudian tentu bukan tanpa alasan. Dalam perjudian terdapat bahaya besar yang mengancam kesadaran diri dan merusak perekonomian keluarga. Setan, yang diciptakan dari api, menyalurkan panas bisikan jahatnya ke dalam hati manusia agar mengikuti hawa nafsu dan berbuat sesuai dengan kehendaknya. Dalam praktik judi, timbul rasa benci dan permusuhan di antara para pelakunya. Walaupun mereka duduk bersama di satu meja, hati dan pikiran mereka tidaklah satu; masing-masing berharap menjatuhkan yang lain, menginginkan kerugian bagi temannya dan kemenangan bagi dirinya. Maka, tidak ada persaudaraan sejati di antara mereka, bahkan yang tersisa hanyalah luka dan kebencian. Inilah yang telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an:
اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ
Artinya: “Sesungguhnya setan hanya bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu melalui minuman keras dan judi” QS. Al-Maidah: 91
Orang yang terjerumus dalam perjudian sering kali hatinya dipenuhi kekecewaan dan kemarahan. Akalnya tertutup dari nalar yang sehat, sehingga ia merasa berat untuk menunaikan shalat, enggan menerima nasihat, dan sulit diajak kembali ke jalan yang benar. Hal itu karena dirinya telah terikat dengan perbuatan setan yang merugikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ
Artinya: “serta (bermaksud) menghalangi kamu dari mengingat Allah dan (melaksanakan) salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” QS. Al-Maidah: 91
Hadirin jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah swt
Allah selalu menyeru hamba-Nya kepada kebaikan dan keselamatan, sedangkan setan menyeru kepada keburukan dan kebinasaan. Perjudian bukan hanya membawa dampak negatif bagi pelakunya, sebagaimana telah disebutkan, tetapi juga menimbulkan bahaya yang lebih besar, yaitu meruntuhkan kestabilan ekonomi dan menjerumuskan keluarga ke dalam jurang kesengsaraan.
Orang yang pikirannya telah gelap dan jiwanya tidak stabil akan menghamburkan banyak harta demi mengejar keuntungan semu dari praktik perjudian. Bahkan, barang-barang berharganya rela dijual hanya untuk melanjutkan pengaduan nasib yang menyesatkan. Namun pada akhirnya, bukan keuntungan yang ia peroleh, melainkan kerugian, kebuntuan, dan penyesalan. Demikianlah hakikat judi, baik yang dilakukan secara langsung maupun melalui judi online yang marak terjadi pada masa sekarang.
Sangat penting bagi kita untuk mengedepankan akal sehat dan pertimbangan yang matang, khususnya dalam menjaga kestabilan ekonomi keluarga. Dengan cara itu, seseorang akan tahu apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia dahulukan. Orang yang sehat akalnya tentu tidak akan menukar harta yang nyata dengan sesuatu yang semu dan tidak jelas. Sebaik-baik amal adalah amal yang dihasilkan dari usaha dan kerja keras sendiri. Dalam sebuah hadis riwayat al-Bazzar dan disahihkan oleh al-Hakim, diceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ ditanya
أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ؟ قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ، وكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
Artinya: “mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau menjawa: pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi). HR. Bazzar.
Jama’ah yang dimuliakan Allah, apabila kita mendambakan harta yang penuh keberkahan, keluarga yang tenteram, serta terhindar dari jurang kebinasaan, maka jauhilah segala bentuk perjudian. Tempuhlah jalan yang halal melalui kerja dan usaha yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.
Mudah-mudahan Allah menjaga amal perbuatan kita, membersihkan pikiran dan hati kita, melindungi harta dan keluarga kita dari bahaya judi yang membawa kerugian serta kesengsaraan. Aamiin.
بارك الله لي ولكم في القرءان العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم واستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah ke II
الحمد لله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله، وما كنا لنجتمع لولا أن أجمعنا الله. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده.
اللهم صل وسلم على أشرف الأنبياء والمرسلين سيدنا محمد المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد.
فيا عباد الله، أوصي نفسي وإياكم بتقوى الله فمن يتق الله يصلح له أعماله ويغفر له ذنوبه، فقد قال تعالى في كتابه الكريم: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
إن الله وملئكته يصلون على النبي، يا أيها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصبحه أجمعين. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، اللهم اجعل جمعنا هذا جمعا مرحوما وتفرقنا من بعده تفرقا معصوما برحمتك يا أرحم الراحمين، آمين.
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربي وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون، واذكروه يذكركم، ولذكر الله أكبر.




