NUANSANET.ID Masjid dalam Islam tidak pernah sekadar bangunan. Ia adalah jantung peradaban. Dari masjid, Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah—menanamkan iman, menegakkan keadilan, dan merajut persaudaraan.
Namun hari ini, kita menyaksikan fenomena yang menggelisahkan: masjid berdiri megah di berbagai sudut kota dan desa, tetapi tidak sedikit yang sepi dari jamaah. Kubah menjulang, fasilitas kian canggih, tetapi ruh kemakmuran terasa memudar. Lalu, siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab memakmurkan masjid?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang tegas dan mendasar:
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ
“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah.” (QS At-Taubah: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa kemakmuran masjid bukan pertama-tama soal fisik, melainkan soal iman dan komitmen spiritual.
Masjid Bukan Sekadar Bangunan
Dalam khazanah tafsir klasik, Imam At-Tabari menjelaskan bahwa “memakmurkan masjid” mencakup dua aspek: membangunnya dan menghidupkannya dengan ibadah. Sementara Imam Al-Qurthubi mengingatkan, kemegahan bangunan tanpa amal ibadah tidak menjadikan masjid itu makmur.
Di sinilah letak persoalan kita hari ini. Pembangunan fisik kerap menjadi fokus utama, sementara penghidupan masjid—seperti shalat berjamaah, majelis ilmu, dan pembinaan umat—justru terabaikan.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memberikan motivasi besar:
مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid karena Allah, Allah akan membangunkan baginya rumah di surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini tidak hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi juga tentang niat dan keberlanjutan fungsi masjid.
Peran Rakyat: Dari Gotong Royong hingga Menghidupkan Jamaah
Sejarah mencatat, Masjid Nabawi dibangun bersama oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Tidak ada jarak antara pemimpin dan umat; semua terlibat, semua merasa memiliki.
Di Indonesia, semangat ini masih terasa. Banyak masjid dibangun dari swadaya masyarakat—dari infak kecil hingga wakaf tanah. Namun, tantangan muncul setelah masjid berdiri: siapa yang akan menghidupkannya?
Rakyat memiliki peran strategis, antara lain:
- Menghidupkan shalat berjamaah
- Menghadiri majelis ilmu
- Menggerakkan kegiatan sosial
- Menjaga kebersihan dan keamanan
Masjid akan hidup jika umatnya hidup. Sebaliknya, masjid akan sepi jika umat menjauh.
Negara dan Tanggung Jawab Kepemimpinan
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar urusan administratif, melainkan juga tanggung jawab moral dan spiritual. Al-Qur’an menegaskan:
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ…
“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kekuasaan di bumi, mereka mendirikan shalat…” (QS Al-Hajj: 41)
Ayat ini memberi isyarat bahwa negara memiliki peran dalam menjaga dan menopang kehidupan keagamaan, termasuk memakmurkan masjid.
Peran negara dapat diwujudkan dalam:
- Fasilitasi pembangunan dan perawatan masjid
- Pembinaan takmir, imam, dan dai
- Menjaga masjid dari konflik dan politisasi
- Mendukung program pendidikan dan sosial berbasis masjid
Negara tidak mengambil alih peran umat, tetapi memastikan ekosistem masjid tetap sehat dan produktif.
Mengembalikan Masjid sebagai Pusat Peradaban
Sayyid Qutb menegaskan bahwa masjid adalah pusat pembentukan masyarakat Islam. Dari masjid lahir generasi yang kuat secara iman dan akhlak.
Di Indonesia, potensi ini sangat besar. Masjid dapat menjadi:
- Pusat pendidikan umat
- Ruang konsolidasi sosial
- Basis penguatan ekonomi syariah
- Wadah pembinaan generasi muda
Namun semua itu hanya mungkin terwujud jika ada sinergi antara umat dan pemimpin.
Sinergi yang Dirindukan
Masjid tidak akan makmur jika hanya dibangun tanpa dihidupkan. Sebaliknya, semangat umat tidak cukup tanpa dukungan sistem yang baik.
Di sinilah pentingnya sinergi:
- Umat menghidupkan masjid dengan iman dan amal
- Pemimpin memfasilitasi dengan kebijakan dan dukungan
Jika keduanya berjalan seiring, masjid akan kembali menjadi pusat peradaban, bukan sekadar simbol.
Penutup
Masjid adalah cermin umat. Jika masjid hidup, umat akan kuat. Jika masjid sepi, ada yang perlu kita perbaiki bersama.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang bertanggung jawab, tetapi sejauh mana kita mengambil bagian.
Sebab pada akhirnya, memakmurkan masjid bukan hanya tugas segelintir orang—melainkan panggilan iman bagi setiap Muslim.
(Drs. H. Umar Fauzi, SQ, MA)
Pengamat Studi Al-Qur’an dan Dakwah




